Selasa, 08 Maret 2022

Kalajengking Ghaib

"Hihihihi …" 


Bulu kuduk merinding karena seberani apapun aku, tetaplah manusia biasa yang masih punya rasa takut. Widya dan Nita saling berpandangan, mungkin ragu. Namun, aku menepuk pundak mereka lalu menganggukkan kepala pertanda untuk tetap maju.


"Kamu dengar nggak tadi ada suara," bisik Widya.


Belum sampai menuju setengahnya lokasi saja sudah disambut suara merdu dari seorang wanita yang tidak kami lihat wujudnya. Membuat kami nyaris mengurungkan niat untuk melangkah lebih dalam. 


"Assalamualaikum …" ucapku kala melihat rembulan yang awalnya sempurna purnama berganti kabut hitam dan angin kencang.


Suasana telah berubah, aura yang mulanya tenang dan damai berganti panas dan seakan banyak yang datang menghampiri. Namun tak terlihat.


"Ada apa di sana, Wid?" tanyaku pada Widya yang telah memejamkan mata dan mengambil posisi duduk bersila.


"Ada banyak kelabang besar Na, dia … mendekat," ucapnya dengan sedikit gemetar.


"Tetap disitu! Jangan takut, ucapkan salam saja!" perintahku cepat.


Malam ini kami sedang mencoba berekreasi ke sebuah tempat yang konon di bilang angker dan sering ada penampakan. Dari ada kepala yang menggelinding sendiri, dan juga ada wanita cantik yang tengah duduk saat siang hari. Hingga membuat kami penasaran.


Daun hijau jatuh tepat di tanganku. Padahal jarak antara kami uji nyali dengan pepohonan sangatlah jauh. Sontak aku kaget dan hampir berlari, namun, ku tahan demi menemani mereka. Untung saja mereka memejamkan matanya, kalau tidak, bisa merah mukaku karena malu sebab ketakutan sendiri.


"Aku tanya ke dia yang seekor kelabang, dia meminta kita untuk segera pergi dari sini dan jangan ikut mencampuri urusannya!" kata Widya saat membuka mata dan menenggak air putih hampir tandas.


Nita bergidik ngeri mendengar penuturan Widya yang diiringi hembusan angin dan suasana masih gelap gulita sehingga menambah suasana menjadi semakin mencekam.


"Hei, siapa disitu?" teriak dua orang lelaki dan menghampiri kami. 


Dengan tampang sangarnya Nita maju ke depan menghadapi mereka, sekian detik berikutnya Nita bersama kami kembali.


"Mereka mengira kita sedang melakukan hal tidak senonoh, maklumlah, tempat seperti ini memang seringkali dijadikan tempat mes*m bagi kaum yang berot*k miring, aneh memang mereka," seloroh Nita saat aku bertanya ada apa dengan mereka tadi.


"Lalu?" tanyaku penasaran.


"Aku jawab saja kalau kita sedang uji nyali bersama, mereka malah mempersilahkan lalu pergi seperti ketakutan gitu," jelas Nita.


Selesai uluk salam kami bergegas pulang, tanpa bersuara sepanjang perjalanan karena lelah. Tenaga kami terkuras habis setelah hampir separuh malam main di negara lain.


"Nggak ada yang 'ikut' kan, Na?" tanya Widya dan Nita bersamaan.


"Aman!" 


"Na, aku masih penasaran sama hewan besar tadi. Kira-kira siapa yang menyuruh untuk mematikan tempat itu, ya?" tanya Widya dengan serius. "Sebab, amat sangat mustahil kalau orang awam terhadap hal-hal mistis, bisa langsung mematikannya. Soalnya dulu sekali toko itu, 'kan ramai banget ya." 


"Pasti dia orang yang sudah sangat ahli dalam hal itu, hebat juga, ya, yang dimintai bantuan. Bisa langsung kilat melumpuhkan segalanya," sahut Nita sambil menyeruput minuman jahe hangatnya.


Semua mata tertuju padaku, mungkin menunggu aku menjawab atas rasa penasarannya. Ada rasa kecewa saat aku hanya menaikkan kedua bahuku lalu berlalu mandi karena badan lengket semua.


_____ 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Glazed skin, not only beauty, but healthy

Kini semua perempuan sedang berlomba-lomba untuk membuat wajahnya glowing dan bersih. Berbagai macam produk skincare terkadang d...