Mbak Na
Berbagi Cerita
Jumat, 28 Oktober 2022
Glazed skin, not only beauty, but healthy
Kamis, 10 Maret 2022
Cerpen AKU MENYERAH
Pada awalnya kami pun dibilang sebagai keluarga yang harmonis, tanpa ada pertengkaran atau perselisihan antara mertua juga ipar lainnya. Rukun tentram dan damai, bahkan selalu menjadi bahan candaan saat melihat kami berdua yang masih hangat-hangatnya menjadi pasangan baru.
Namun, semenjak saat itu, bencana datang bertubi-tubi tanpa aku undang. Dia, seseorang yang aku sayang dan cinta lebih memilih melepaskanku karena hal yang tidak masuk akal dan tak aku tahu alasan yang sesungguhnya.
Dia, yang aku dambakan menjadi pendamping hidup yang selamanya akan mengarungi bahtera dalam suka dan duka, lebih memilih keluarga daripada hidup berdua.
"Sana kamu tidur saja di kamar, aku muak sama kamu!" bentaknya dengan kasar. Dia berdiri tegak di atas kasur dengan tatapan nyalang.
"Mas, yuk, kalau ada masalah kita selesaikan bersama di dalam kamar biar bapak dan ibu nggak tahu!" ajakku yang ditanggapi dengan hempasan kasar di tangan.
"Sudah, kalau kamu mau tidur, sana tidur sendiri. Aku mau tidur diluar saja," bentaknya dengan membuang muka ke samping. Tanpa membantah lagi aku mengangguk pelan lalu masuk ke kamar sendirian dan menangis tergugu dalam sepi.
Aku yang memang ikut suami tinggal bersama dengan orang tuanya tidak berani bicara banyak, sebab pernah sekali aku berkata, ibu mertua dan kakak ipar dari suamiku malah menggunjing di belakangku. Sejak saat itu aku mulai menjaga diri untuk bersuara meski disakiti dan selalu di sindir setiap hari.
Amarah, sakit hati dan nelangsa selalu aku simpan sendiri. Berharap semua akan kembali lagi. Namun, meski ada air mata darah sekalipun yang keluar tidak bisa meluluhkan hatinya yang berkabut hitam.
Bahkan segala upaya yang aku lakukan dari yang berstatus Kyai, Ustadz dan dukun sekalipun tidak bisa mengembalikan cintaku yang saat itu telah berbalik arah.
Dari mandi kembang, memanggilnya dalam doa, berpuasa hingga tidak tidur semalaman serta tangisan air mata saat tengah malam tak juga membalikkan hati yang mulai tertutup. Justru yang aku dapatkan adalah sebuah pernyataan yang menyakitkan.
"Aku lebih memilih ucapan ipar dan ibuku yang selalu benar daripada kamu yang hanya mengenal dalam sekejap saja. Istri bisa dicari kapanpun, akan tetapi ibu dan ipar tidak bisa dicari karena mereka aku akan kembali," ucapnya kala itu.
Teriak? Memaki dengan sumpah serapah? Tidak. Lidahku terasa kelu dan hanya air mata yang membanjiri pipi ini berulang kali tanpa henti. Tidak berhenti sama sekali. Meski aku sudah berlutut di kakinya dan memohon ampun, tetap saja dia enggan menerima maafku.
"Sudah, lepaskan saja dia. Mungkin bukan jodohmu!" hibur Ibu kala itu saat aku pulang dengan janji nanti akan dijemput olehnya. Meski sampai pada kenyataannya, ucapan yang dia janjikan tidak pernah ditepati hingga perceraian itu terjadi.
Aku menggeleng cepat, jelas aku menolak idenya karena hati ini masih sangat cinta. Pernikahan yang baru berumur tiga bulan harus kandas seperti ini? Tidak, aku tidak akan menyerah begitu saja. Ini adalah ujian hidupku dan aku harus bisa melewatinya meski ada hati yang akan terluka.
"Sudahlah, Mbak. Saya melihat kalau suami, Mbak ini memang sedang ada yang menarik. Dia tidak menginginkan pernikahan kalian langgeng, dan bagai bertepuk kedua tangan, suami Mbak menyetujui usul dari si penarik," ucap Pak Kyai waktu itu.
Bukannya aku melemah, namun, justru dengan nyalang dan garangnya aku memaki dan bicara lantang terhadap seseorang yang dituakan di desanya itu.
"Kalau bapak tidak bisa mengembalikan suami saya bilang saja, nggak usah bicara yang tidak-tidak!" bentakku kala itu.
Ibu lalu mengajakku pulang, mungkin malu akan sikapku yang terbilang buruk dan tidak pantas ditiru itu.
Dua Minggu kemudian, aku mencoba lagi mendatangi seseorang yang sangat sederhana namun, terkenal dengan orang yang pintar juga ditempatnya. Setelah menunaikan tugas wajibnya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dia datang dan melihatku dengan seksama.
"Lebih baik tinggalkan saja dia, Mbak. Dia sudah banyak makan garam dari saudaranya, semoga kelak ada lelaki yang baik mau menjadi pemimpin keluarga sampean!" Lagi-lagi aku mengamuk tak tentu arah. Hingga air mata ini semakin tumpah ruah.
Segala usaha telah aku tempuh untuk mengembalikan lelaki yang masih berstatus suami kala itu. Apapun akan aku lakukan, bagaimanapun caranya aku ingin suamiku kembali dalam keadaan baik-baik saja seperti saat malam pertama.
Dari merengek-rengek untuk dia datang kalau aku sedang sakit, dari menangis dan meminta dia kembali lagi dan memohon maaf jika aku khilaf. Akan tetapi, semua itu gagal. Tidak tersentuh sedikitpun hatinya untuk terbuka dan berucap manis seperti saat masih pacaran dulu. Tidak.
Hingga akhirnya, aku datang ke rumah adik dari nenekku. Beliau juga termasuk orang pintar di tempatnya, banyak tamu yang berdatangan meminta tolong terhadap, Mbah Mad, sebut saja seperti itu.
Aku menangis sejadi-jadinya di depan beliau, meminta dengan keikhlasannya untuk membantu memulangkan suamiku yang telah tersesat.
"Mau kamu apa?" tanyanya dengan lembut.
"Aku mau dia kembali lagi seperti dulu, Mbah. Kita bahagia lagi bersama, aku mau pernikahan ini langgeng. Malu sama orang-orang, Mbah. Masak pernikahan baru tiga bulan lalu kandas begitu saja," pintaku kala itu dengan deraian air mata dan suara sedikit parau.
"Siapa namanya, Bapak, Ibu serta juga fotonya, aku mau lihat," jawab Mbah Mad masih dengan suara lembut.
Segera aku perlihatkan foto pengantin kami, serta apa yang diminta. Bukannya lega dan senyum namun, air mataku justru berjatuhan tanpa henti saat aku melihat beliau menggeleng pelan serta dengusan nafas kasar.
"Sekarang, aku tanya sekali lagi. Apa maumu?"
"Membuatnya kembali padaku, Mbah," balasku dengan menyunggingkan senyum manis, dalam hati aku berbunga-bunga karena keinginanku akan segera terlaksana.
"Jika dia kembali lagi sama kamu, yakin kamu mau?" Aku mengangguk mantap dengan mata berbinar-binar.
"Yakin?" tanyanya lagi yang membuatku semakin jengkel. "Kalau dia kembali lagi sama kamu, dia nanti tidak akan seperti dulu. Yakin kamu mau?"
Aku yang kebingungan dengan kalimat yang diutarakan sejenak menautkan kedua alis. Berpikir kembali akan kalimat yang aku dengar, meski mencoba mengotak-atik dengan seksama, naasnya otakku gagal mencerna.
"Bicara apa, sih, Mbah? Langsung sajalah, aku nggak ngerti apa yang sampean bicarakan," ucapku dengan mengerucutkan bibir, ngambek.
"Dia bisa kembali lagi sama kamu, tapi, gila. Tidak waras, sebab apa? Karena ada juga yang menariknya dari sana. Apa yang terjadi jika satu orang di tarik dua arah? Dia akan linglung. Apa kamu mau mempunyai suami yang seperti itu? Jika mau maka akan saya tarik sekarang juga, itu, 'kan kemauanmu?"
Sejenak aku berpikir meski masih kosong otak ini, bukannya mendapatkan jawaban dari apa yang aku pikirkan justru aku malah menangis tergugu.
"Sebenarnya dari pihak dia yang tidak setuju akan pernikahan kalian …."
"Kalau nggak setuju lalu kenapa kemarin terjadi pernikahan?" pekikku.
Mbah Mad mengedikkan kedua bahunya, lalu mengelus punggungku lembut. Seolah memberi kekuatan untukku tegar dan kuat.
"Semua keputusan ada ditanganmu!"
Akhirnya aku melemah, mengalah dan pasrah dengan keadaan. Meski deraian air mata masih saja keluar, namun, bibirku berusaha berbicara dan menopang tubuhku untuk selalu kuat.
"Baiklah, Mbah. Aku menyerah, biarlah dia bahagia disana bersama keluarganya. Terima kasih, Mbah." Akhirnya aku pulang dengan segala sakit yang tertahan.
Sekarang, apa dia bahagia? Mungkin. Sebab, sejak aku mulai menutup diri dari dia dan membuka lembaran baru, rasanya hati ini enggan untuk tahu apapun tentangnya.
❤️
Semoga bisa diambil hikmahnya.
Selasa, 08 Maret 2022
Kalajengking Ghaib
"Hihihihi …"
Bulu kuduk merinding karena seberani apapun aku, tetaplah manusia biasa yang masih punya rasa takut. Widya dan Nita saling berpandangan, mungkin ragu. Namun, aku menepuk pundak mereka lalu menganggukkan kepala pertanda untuk tetap maju.
"Kamu dengar nggak tadi ada suara," bisik Widya.
Belum sampai menuju setengahnya lokasi saja sudah disambut suara merdu dari seorang wanita yang tidak kami lihat wujudnya. Membuat kami nyaris mengurungkan niat untuk melangkah lebih dalam.
"Assalamualaikum …" ucapku kala melihat rembulan yang awalnya sempurna purnama berganti kabut hitam dan angin kencang.
Suasana telah berubah, aura yang mulanya tenang dan damai berganti panas dan seakan banyak yang datang menghampiri. Namun tak terlihat.
"Ada apa di sana, Wid?" tanyaku pada Widya yang telah memejamkan mata dan mengambil posisi duduk bersila.
"Ada banyak kelabang besar Na, dia … mendekat," ucapnya dengan sedikit gemetar.
"Tetap disitu! Jangan takut, ucapkan salam saja!" perintahku cepat.
Malam ini kami sedang mencoba berekreasi ke sebuah tempat yang konon di bilang angker dan sering ada penampakan. Dari ada kepala yang menggelinding sendiri, dan juga ada wanita cantik yang tengah duduk saat siang hari. Hingga membuat kami penasaran.
Daun hijau jatuh tepat di tanganku. Padahal jarak antara kami uji nyali dengan pepohonan sangatlah jauh. Sontak aku kaget dan hampir berlari, namun, ku tahan demi menemani mereka. Untung saja mereka memejamkan matanya, kalau tidak, bisa merah mukaku karena malu sebab ketakutan sendiri.
"Aku tanya ke dia yang seekor kelabang, dia meminta kita untuk segera pergi dari sini dan jangan ikut mencampuri urusannya!" kata Widya saat membuka mata dan menenggak air putih hampir tandas.
Nita bergidik ngeri mendengar penuturan Widya yang diiringi hembusan angin dan suasana masih gelap gulita sehingga menambah suasana menjadi semakin mencekam.
"Hei, siapa disitu?" teriak dua orang lelaki dan menghampiri kami.
Dengan tampang sangarnya Nita maju ke depan menghadapi mereka, sekian detik berikutnya Nita bersama kami kembali.
"Mereka mengira kita sedang melakukan hal tidak senonoh, maklumlah, tempat seperti ini memang seringkali dijadikan tempat mes*m bagi kaum yang berot*k miring, aneh memang mereka," seloroh Nita saat aku bertanya ada apa dengan mereka tadi.
"Lalu?" tanyaku penasaran.
"Aku jawab saja kalau kita sedang uji nyali bersama, mereka malah mempersilahkan lalu pergi seperti ketakutan gitu," jelas Nita.
Selesai uluk salam kami bergegas pulang, tanpa bersuara sepanjang perjalanan karena lelah. Tenaga kami terkuras habis setelah hampir separuh malam main di negara lain.
"Nggak ada yang 'ikut' kan, Na?" tanya Widya dan Nita bersamaan.
"Aman!"
"Na, aku masih penasaran sama hewan besar tadi. Kira-kira siapa yang menyuruh untuk mematikan tempat itu, ya?" tanya Widya dengan serius. "Sebab, amat sangat mustahil kalau orang awam terhadap hal-hal mistis, bisa langsung mematikannya. Soalnya dulu sekali toko itu, 'kan ramai banget ya."
"Pasti dia orang yang sudah sangat ahli dalam hal itu, hebat juga, ya, yang dimintai bantuan. Bisa langsung kilat melumpuhkan segalanya," sahut Nita sambil menyeruput minuman jahe hangatnya.
Semua mata tertuju padaku, mungkin menunggu aku menjawab atas rasa penasarannya. Ada rasa kecewa saat aku hanya menaikkan kedua bahuku lalu berlalu mandi karena badan lengket semua.
_____
Glazed skin, not only beauty, but healthy
Kini semua perempuan sedang berlomba-lomba untuk membuat wajahnya glowing dan bersih. Berbagai macam produk skincare terkadang d...